jump to navigation

The Guru August 24, 2017

Posted by endrocn in Mind Rippler, Travelling.
Tags: , , , , ,
add a comment

“Who or what is your guru?”

This question from my ayurveda course professor led to an inspiring discussion today.

I’ve lived my life with a set of given truth defined by ‘guru’ – saints and holy scriptures. That is until recently, the small but significant part of me reckoned that truth is personal and one’s truth can be inspired by but can not be prescribed by other people, let alone books.

But, staying in Ayurjeevan Ayurveda, in the middle of those who sought to be healed led me to one notion: truth can be one’s purpose but can NOT be the goal of one’s life; truth lies in one’s effort of seeking, journey, learning.

When I travel, explore and learn from a person – no matter smart and spiritual – his/her truth resides in his/her own consciousness; I can only learn how he/she arrived at and live his/her truth. Learning one’s truth is an opportunity for me to reflect on, challenge, redefine and live with my own truth, if there’s any.

So my answer to the professor was, “My guru is nobody or nothing. My guru is everybody and everything. I am my guru and my disciple.”

Jangan Jual Keramahan Kami April 23, 2015

Posted by endrocn in Travelling.
add a comment

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Trip ke NTT, April-Juni 2010

Trip ke NTT, April-Juni 2010

“Jalan-jalan kok sampai ke sini?” tanya seorang bapak dalam angkutan kota yang penuh sesak menuju Cancar, Manggarai, Flores.

“Memang tidak ada orang yang jalan-jalan sampai ke sini?” saya balik bertanya sembari menghirup udara sejuk perbukitan Manggarai.

“Kalau ke sini, apalagi sampai ke Kampung Todo dan Wae Rebo, biasanya (untuk) penelitian,” jelasnya.

Bapak tua yang tak pernah lepas dari destar-nya ini kemudian menceritakan pengalamannya mengantar seorang peneliti dari Jerman menyusuri jalan dari Cancar hingga Kampung Todo, Narang, dan akhirnya tiba di Kampung Denge. Semua ada di Manggarai. Walau sepeda motornya harus masuk bengkel karena bocor terantuk jalan berbatu di pantai selatan Manggarai, ia tidak minta ganti rugi apalagi imbalan.

“Wah, berarti saya iseng ya, Pak?” seloroh saya setengah bertanya. “Anggap saja pengen ketemu saudara sebangsa setanah air.”

Jawaban sekenanya yang terlempar dari otak malas saya justru malah jadi jawaban ampuh bagi pertanyaan serupa dalam perjalanan tiga bulan ini. Semua orang yang saya temui menyuguhkan keramahan dan kepolosan khas NTT. Ini persis sama seperti yang saya rasakan ketika bertemu saudara sendiri. Di beberapa tempat, keramahan terasa layaknya pelayanan hotel berbintang lima berbalut kesederhanaan.

Pernah saya iseng mengetuk pintu sebuah ume kebubu di Amanuban Barat, di tepi jalan raya dari Kefamenanu, Timor Tengah Utara menuju Soe, Timor Tengah Selatan, dengan niat untuk mengambil foto. Setelah mengungkapkan tujuan, ibu pemilik ume malah mengajak saya masuk dan menyuguhi penhana, teh panas, dan jambu biji. Dari rencana cuma ambil foto, kami akhirnya asyik ngobrol sampai lebih dari setengah jam.

Keramahan kadang-kadang terasa berlebihan hingga saya merasa seperti tamu terhormat. Di Kampung Pasunga, Sumba Tengah, saya dilayani layaknya tamu adat. Makan dan istirahat di uma gudang dengan tetua klan Madieta, diambilkan air untuk mandi, hingga diantar berkeliling ke Kampung Gallubakul yang konon masih satu rumpun dengan Kampung Pasunga.

Di sebuah kampung di atas bukit kecil sebelum Pela, Manggarai, sambil basah kuyup menuntun motor sewaan yang mogok, saya mengetuk pintu sebuah rumah untuk minta izin berteduh di terasnya. Tak hanya tempat berteduh, segelas kopi panas dan sepiring singkong rebus pun terhidang untuk saya. Berteduh pun tidak di teras, melainkan di ruang tamu bersama seluruh anggota keluarga yang kemudian menemani saya berbincang mengusir dingin. Tambahan lagi, saya diantar oleh anak pemilik rumah dengan motornya sampai ke Pela, ditemani hingga bus yang saya tunggu tiba.

Walau tak ingin menolak keramahan ini, akhirnya saya penasaran juga. Ada apa di balik semua keramahan ini? Apakah hanya untuk tamu atau sudah menjadi budaya sehari-hari? Ketika akhirnya mendarat lagi di Larantuka, di ujung perjalanan, saya berbincang dengan Bapak Tens, tuan rumah saya.

“Orang sini (NTT) tidak suka kalau ada teman atau keluarga yang berkunjung malah tinggal di hotel. Makin banyak orang di rumah makin banyak berkat dan rejeki yang datang,” kata lelaki keturunan Rote ini.

Sayangnya, keramahan itu kadang-kadang disalahartikan oleh pengunjung seperti saya. Terlalu lama tinggal di kota, saya tak biasa menerima kebaikan tanpa memberi balasan. Misalnya, di Kampung Paranobaroro, Sumba Barat Daya, sekerumunan anak muda mengikuti saya ketika mengambil foto rumah tradisional mereka. Saat beristirahat, mereka “menodong” minta uang.

“Untuk beli rokok,” katanya. Saya tidak mengeluh. Tidak juga senang. Biasa saja. Anggap saja imbalan karena telah mengizinkan saya mengambil foto kampung mereka.

Di lain kesempatan, dalam perbincangan sore hari di Kampung Bena, Ngada, Bapak Philippus, salah seorang pengurus kampung, curhat ke saya. “Saya sedih lihat anak-anak (di Bena) sering minta ini-itu ke turis yang datang. Padahal, sudah sering saya bilang, boleh menyapa tapi jangan sampai minta-minta,” ujarnya lirih.

Saya memang mengalami sendiri. Buat saya, lagi-lagi, tak masalah. Namanya juga anak-anak. Apalagi yang diminta bukan uang atau barang berharga, tapi permen atau sekadar foto. Tapi tidak untuk Bapak Philippus. Ia tidak ingin tamu pulang dengan kesan yang salah.

“Orang Ngada mungkin keras. Kami mungkin miskin. Tapi, kami pantang minta-minta. Apalagi kepada tamu yang harusnya kami layani,” ujarnya pelan tapi tegas. “Saya sedih kalau keramahan orang Bena disalahartikan sebagai pelayanan yang harus diberi imbalan. Saya takut anak-anak kami kehilangan budaya yang sebenarnya,” lanjutnya.

Ia mengerti dan menghormati tamu yang datang, terpesona dengan keramahan warganya, dan ingin berbuat hal yang sama. Tapi, ia sedih jika pemberian pengunjung ke anak-anak malah jadi kebiasaan, bahkan tuntutan. Ia lebih senang jika tamu membalas keramahan itu dengan membeli kain yang ditenun oleh perempuan atau kopi yang ditanam oleh laki-laki Bena. Ia lebih senang warganya menerima uang atas pekerjaan yang diusahakan sendiri, bukan karena belas kasihan.

Saya tercekat. Sebagai pengunjung, ternyata saya masih menggunakan uang dan materi sebagai jalan singkat membalas keramahan tuan rumah saya. Padahal, seperti kata Bapak Philippus, justru jalan singkat itulah yang akan mengikis keramahan dan kebaikan orang NTT yang sesungguhnya.

Ulurkan Tanganmu, Bukan (Hanya) Dompetmu August 5, 2011

Posted by endrocn in Mind Rippler.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Menjelang siang di penghujung Juli 2011, delapanpuluhan pasang mata tertuju pada pria di pojok depan ballroom Hotel Le Meridien, Jakarta. Semua berusaha sekuat tenaga menangkap kalimat yang keluar dari bibirnya. Memicingkan mata. Mendekatkan gendang telinga. Membaca gerak bibir. Semua sudah dilakukan. Saya yang berdiri paling dekatpun akhirnya harus mengakui: saya tak mengerti apa yang disampaikan Bapak Afrizar Z, penyandang tunarungu dan tunawicara yang juga ketua GPP GERKATIN (Gerakan untu Kesejahteraan Tunarungu Indonesia).

Walau ditawarkan bantuan terjemahan, ia kekeuh menyampaikan pendapatnya sendiri. Saya menyapu seluruh wajah di dalam ballroom, sebagian besar menunjukkan wajah yang sama: tak mengerti. Gawat, padahal yang disampaikan Bapak Afrizar ini masukan yang penting.

Tak disangka, ia kemudian menyerahkan microphone ke penterjemahnya. “Nah, sekarang Anda merasakan sendiri kesulitan berkomunikasi seperti yang sering saya alami? Saat yang disampaikan jauh lebih penting dari siapa yang menyampaikan?”

Kesempatan. Itulah yang dituntut oleh teman-teman penyandang disabilitas. Sayangnya, karena kekurangpahaman, rasa kasihan lah yang malah sering menghampiri mereka.

Emanuela Pozzan, ahli disabilitas dari International Labour Organization (ILO) di Jenewa, Swiss bahkan menilai bahwa masyarakat-lah yang perlu direhabilitasi. Menurutnya, fokus kepedulian kita yang sekarang dari sumbangan/charity harus diubah menjadi pengakuan dan penyetaraan atas hak/rights.

Menghormati adalah satu hal, mendukung dan memberdayakan adalah hal lain. Selama ini saya bangga dengan hanya menghormati hak-hak minoritas termasuk penyandang disabilitas, tanpa pernah memberikan kesempatan agar mereka lebih terberdaya.

Lokakarya ini tujuannya tak mudah: merancang rencana aksi untuk meningkatkan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Menurut beberapa peserta, lokakarya seperti ini baru pertama kali diadakan. Belum pernah sebelumnya penyandang disabilitas bertemu dengan pembuat kebijakan (pemerintah), penyuara hak-hak penyandang disabilitas (NGO) dan mereka yang berkesempatan memberdayakan penyandang disabilitas (pengusaha).

Saya dituntut untuk menciptakan suasana belajar dan bekerja yang memberikan kesempatan setara bagi delapan puluh peserta – seperempat di antaranya adalah penyandang disabilitas. Segera saya sadar, pengetahuan saya sangat minim. Dan ini adalah buah dari ketidakacuhan selama ini akan teman-teman penyandang disabilitas. Ternyata, ketidakacuhan (ignorance) saya adalah ketidakmampuan (disability) saya.

Padahal, dengan sedikit modifikasi dan persiapan, lokakarya yang tadinya saya khawatirkan bakal berantakan malah jadi produktif.

Tak lagi berkutat pada metodologi yang canggih, saya mengembalikan pada esensinya: berbagi pengetahuan dan berdiskusi. Penterjemah bagi peserta tunawicara dan tunarungu, asisten bagi peserta tunanetra untuk berpindah tempat, dan seterusnya. Tak rumit, hanya perlu sedikit usaha.

Dan usaha itu berbuah hasil. Setidaknya begitulah pengakuan beberapa peserta yang saya tanya sesaat setelah acara ini kelar. “Akhirnya suara saya didengar,” tepukan di pundak oleh seorang peserta tunanetra menjadi hadiah paling berharga dari lokakarya kali ini. Memang, masih banyak pekerjaan rumah mengikuti lokakarya ini, tapi biarlah itu jadi bagian yang berkepentingan.

Buat saya, mengulurkan tangan untuk memberikan kesempatan jauh lebih bermanfaat dibandingkan sekedar bersimpati dan membuka dompet untuk memberi sumbangan.

Bagaimana dengan Anda?

 


15 Tips Mendesain dan Memfasilitasi Acara dengan Peserta Penyandang Disabilitas

Endro Catur | https://endrocn.wordpress.com | @endrocn

  1. Kenali sejauh mungkin peserta penyandang disabilitas: jenis disabilitas dan jumlahnya. Tanyakan kebutuhan khususnya agar dapat berpartisipasi aktif.
  2. Tidak membedakan peserta, tapi memberi kesempatan yang sama. Tidak menunjukkan simpati berlebihan pada peserta penyandang disabilitas. Pengalaman saya, di hari kedua peserta mulai bisa ‘melupakan’nya dan lebih fokus pada kegiatan.
  3. Bawa suasana lebih dinamis dan menyenangkan. Seimbangkan porsi sesi berbagi pengetahuan (ceramah, presentasi, dll.) dan sesi diskusi. Peserta tunanetra lebih dapat berkonsentrasi mendengar ceramah, sementara peserta tunarungu mudah kelelahan jika harus terus menerus membaca gerak bibir pembicara.
  4. Setujui bersama terminologi yang hendak dipakai: penyandang cacat, penyandang disabilitas atau difable. Penyandang disabilitas cenderung sensitif pada hal ini.
  5. Fokus pada esensi, bukan metodologi, dengan tujuan agar seluruh peserta dapat berpartisipasi dan berkontribusi. Kurangi penggunaan metodologi yang mengharuskan peserta tunanetra dan yang menggunakan tongkat/kursi roda untuk bergerak sering atau bergerak cepat.
  6. Pada sesi berbagi pengetahuan, siapkan layar berisi running text untuk peserta tunarungu dan/atau penterjemah yang dapat dilihat dari seluruh penjuru ruangan. Pastikan sistim tata suara menghasilkan suara yang jelas, tidak pecah dan tidak terlalu menggema agar dapat didengar dengan baik oleh peserta tunanetra. Pertimbangkan untuk tidak menggunakan panggung, apalagi jika salah satu pembicara adalah tunanetra atau pengguna tongkat/kursi roda.
  7. Untuk sesi diskusi kelompok, buat kelompok-kelompok kecil (maksimal 8 orang, 6 orang jumlah ideal) agar seluruh peserta mendapat kesempatan untuk bicara. Pertimbangkan untuk tidak menggunakan meja (round table) dan utamakan menggunakan klaster kursi.
  8. Informasikan pada pembicara, peserta dan fasilitator untuk berbicara perlahan, jelas dan lantang. Penyandang tunarungu dan/atau tunawicara kadang harus mengandalkan membaca gerak bibir untuk menangkap pembicaraan orang di depannya.
  9. Buat tata ruangan dengan jalur yang lurus, jelas dan tidak terhalangi (kabel-kabel, benda-benda yang menghambat, dll) terutama untuk peserta tunanetra dan yang menggunakan tongkat/kursi roda.
  10. Untuk memudahkan menentukan lokasi dalam ruangan (misalnya ketika membagi kelompok), tentukan satu lokasi sebagai titik referensi. Dari titik ini, fasilitator menjelaskan lokasi kelompok menggunakan instruksi yang jelas kepada peserta, terutama peserta tunanetra. Misalnya “sebelah kiri saya”, “sebelah kanan pojok ruangan”, dan seterusnya. Metode ini bisa juga digunakan untuk menginformasikan pintu keluar, ruang makan, dll.
  11. Kecuali untuk tujuan yang lain, sebisa mungkin peserta penyandang disabilitas menyebar di setiap kelompok.
  12. Saat diskusi kelompok, peserta tunarungu dan tunawicara sebaiknya didampingi penterjemah kecuali memungkinkan untuk menyediakan running text.
  13. Informasikan ke seluruh peserta terutama pembicara, presenter dan fasilitator untuk juga menjelaskan isi gambar atau foto, terutama jika gambar dan foto tersebut adalah bagian dari materi.
  14. Peserta yang dibantu penterjemah perlu waktu lebih banyak untuk menerima isi pembicaraan. Sebelum memulai sebuah sesi, pastikan seluruh peserta telah mengerti instruksi yang diberikan. Misalnya, kesempatan mengajukan pertanyaan hanya dibuka ketika peserta tunarungu dan tunawicara telah mengetahui sesi tanya jawab segera dibuka jadi mereka tidak kalah cepat dengan peserta lain.
  15. Pastikan toilet, ruang makan, mushola, dll. mendukung kebutuhan seluruh peserta, terutama peserta yang menggunakan tongkat/kursi roda.