What am I reading now?

(c) Amazon

Jelly Effect: How to make your communication stick.

Purchase the book at Amazon

Berburu Hiu Tresher di Malapascua

(c) Tresher Shark Dive

(c) Tresher Shark Dive

Dengan ukuran tak lebih dari 2.5 km2, Malapascua bagaikan noktah kecil di ujung utara pulau Cebu. Namun jangan terkecoh, selain pantai berpasir putih bersih yang memeluk seluruh daratannya, menyelam di Malapascua bagai memacu adrenalin apalagi jika tujuannya adalah melihat hiu thresher (Alopias Vulpinus) yang konon di seluruh dunia cuma ada ada pulau ini.

Dengan tujuan melihat tresher shark inilah pertengahan Maret 2009 lalu saya menyempatkan berkunjung ke pulau yang masuk provinsi Cebu, Filipina tengah.

Menuju Malapascua tidak terlalu sulit. Saya naik bus umum dari terminal Utara kota Cebu menuju Maya. Perjalanan darat selama tiga setengah jam menuju Maya sangat menyenangkan: menyisir pantai, tebing, hutan dan melewati beberapa kota kecamatan lengkap dengan pasar tradisional dan alun-alunnya.

Dari Maya, saya melanjutkan perjalanan dengan kapal motor ojek menuju Malapascua selama kurang lebih empat puluh lima menit. Kapal ini berangkat dua kali sehari: pagi dan siang. Jika tertinggal atau ingin berangkat di luar jadwal, kita bisa menyewa kapal sendiri.

Tak ada dermaga khusus di pulau ini: cukup sepotong pantai yang dilengkapi pondokan semi permanen dengan beberapa kursi bakso. Tak ada tangga khusus untuk membantu naik atau turun ke kapal ojek, jadi, siap-siaplah berbasah-basah.

Sebagian besar resor yang bagus (baca: mahal) ada di tepi pantai timur dengan harga berkisar 1000 – 3500 peso per malam. Untuk akomodasi yang lebih murah, beberapa penginapan di dalam pulau mematok harga 500 – 1000 peso. Cuma ya itu, siap-siap berjalan kaki agak jauh – kadang melintas pekarangan rumah penduduk – dan siap-siap membawa senter jika harus berangkat subuh untuk sunrise diving: gelap bukan main!

Makanan di pulau ini agak terbatas pilihannya, kecuali jika makan di restoran salah satu resor, itupun dengan menu yang juga terbatas.

Mumpung di pulau, tidak ada salah sedikit avonturir: cobalah makan di warung makan – mirip warteg di Indonesia – di dekat dermaga. Selain karena murah (sekali makan tidak lebih dari 100 peso) juga karena mbak-mbak penjaganya asyik diajak ngobrol. Dia juga nggak ngomel kalau saya minta nambah nasi atau minum, maklum habis diving kan cape.

Selain warung makan itu, saya juga sempatkan beli buah di beberapa warung yang memang cuma menjual buah. Selain harganya murah – sedikit lebih mahal dibandingkan dengan harga di pasar tradisional di Jakarta – sering sekali saya dapat diskon bahkan gratis.

Penampilan fisik penduduk Malapascua nampaknya agak berbeda dengan daratan Cebu. Garis muka memang tidak terlalu jauh – hidung bangir, tulang keras – namun mungkin karena sehari-hari terpapar matahari – sebagian besar berkulit gelap.

Saya bertemu dengan Dino – guide berumur 35 tahun di Thresher Shark Dive – yang ternyata keturunan Indonesia. Ibunya asli Pontianak yang menikah dengan pria Filipina. Dino sendiri memilihi tinggal di Malapascua sejak duabelas tahun lalu. Ketika saya ajak berbincang bahasa Indonesia, ia terlihat senang luar biasa walau lidahnya sering kepeleset.

Menurut Dino, jarang sekali ada orang Indonesia yang sampai ke Malapascua. “Kamu pasti banyak uang,” tuduhnya ke saya.

Memang, berlibur di Malapascua memerlukan biaya lebih besar dibandingkan dengan pulau sejenis, misalnya Gili Trawangan. Penginapan, makanan hingga biaya diving standar semua lebih mahal.

Walau terkanal dengan thresher shark, beberapa lokasi penyelaman lain menawarkan atraksi berbeda: sunset dive di lighthouse untuk melihat mandarin fish kawin, wreck Dona Marilyn yang letaknya di kedalaman 50 meter hingga berburu manta ray.

Yang juga tak boleh dilewatkan di pulau ini adalah bercengkarama dengan anak-anak pulau yang sudah sangat terbiasa dengan turis asing (baca: bule). Dengan bahasa Inggris seadanya, mereka asyik menyapa para turis, bermain di pantai tanpa terganggu dengan bidikan lensa kamera bahkan siap berpose jika diminta.

Jika malam tiba, sempatkan nongkrong di pinggir pantai (terutama di samping Thresher Shark Dive) untuk mencoba makanan khas pulau: barbeque. Apa saja – ikan, daging, sayur – dipanggang. Bahkan, setengah bercanda, saya minta dipanggangkan nanas dan penjualnya bersedia menyiapkannya untuk saya.

Berlibur di Malapscua perlu waktu setidaknya satu minggu, baik untuk menjelajah alam bawah airnya maupun mencicipi sedikit kehidupan penduduknya, seperti kata seorang turis Scotland yang saya temui, “I don’t realize that I’ve been here for a week.”

Bus Cebu – Maya : PHP 110
Kapal ojek Maya – Mapalascua : PHP 50
Sewa kapal ojek Maya – Malapascua : PHP 800

Galeri Foto: Malapascua, Cebu, Filipina

Merapat di Kalanggaman

Merapat di Kalanggaman

Pulau Kalanggaman

Pulau Kalanggaman

Diver

Diver

Sandstrip

Sandstrip

Boatman

Boatman

Sepasang

Sepasang

Pantai timur Kalanggaman

Pantai timur Kalanggaman

Batu-batu

Batu-batu

Jukung

Jukung

Membantu ayah

Membantu ayah

Ciluk ba

Ciluk ba

Berpose

Berpose

Jangkar

Jangkar

Smile

Smile

Teman

Teman

Treasure hunt

Treasure hunt

Petromaks

Petromaks

Nelayan

Nelayan

Sunset di Lighthouse

Sunset di Lighthouse

Merapat

Merapat

Bermain air

Bermain air

Nalayan

Nelayan

Banca - Thresher Shark Divers

Banca - Thresher Shark Divers

Langit biru

Langit biru

Jerigen

Jerigen

Jerigen

Jerigen

Nan

Nan

Pantai

Pantai

Banca

Banca

Sate usus babi

Sate usus babi

Ketupat

Ketupat

Jemuran

Jemuran

Jalan-jalan – Gak Penting tapi – Menyenangkan di Sindang Barang

“Masih lama nggak?”
“Baru juga masuk”
“Apanya?”
“Gue!”

Obrolan ceplas-ceplos dua orang teman – yang satu ketinggalan celana dalamnya di dalam kamar mandi, satunya lagi keburu jebar-jebur dan basah – yang gak sengaja terdengar ketika saya mandi itu bisa dipastikan akan selalu mengingatkan akan perjalanan senang-senang bersama Jalan Bebas ke Sindang Barang, akhir Mei 2009 lalu.

Walau jumlahnya banyak, toilet di Kampung Budaya Sindang Barang yang airnya sempat ngadat bikin antrian panjang. Tapi justru karena antrian itulah obrolan nggak penting seperti di atas meluncur; obrolan yang justru bikin kami – hampir limapuluh orang – kenal bahkan akrab, dalam waktu kurang dari dua hari.

Sekaligus merayakan ulangtahun ke-3 Jalan Bebas – kelompok jalan-jalan yang uniknya memadukan avonturir alam, budaya plus senang-senang – kami berjanji bertemu di stasiun Gambir, berkenalan dan mulai perjalanan menumpang kereta Pakuan Bogor dan dilanjutkan menyewa angkot menuju Kampung Budaya Sindang Barang.

Walau ketika pulang pun saya belum ingat keseluruhan peserta, saya tak akan lupa anggota kelompok Paradise yang benar-benar nyantai, kompak tapi menang terus – biarpun beberapa kali dicurangi kelompok lain yang udah usaha mati-matian tapi nggak menang-menang juga :-)

Peres, nggak usah Lebay deh, ntar malah nggak kedengeran kayak Untitle lho. Welcome to my Paradise…

Mulai dari ngobok-ngobok empang jorok yang katanya ikannya banyak (emang banyak, tapi susah ngeliatnya kalo gak pake google sama snorkel kan???), campur-campur bau ketek di tali tambang, adegan-adegan mesum dengan alasan mindahin bola pake perut sampe lompat-lompat ke segala penjuru mata angin yang nggak bikin IQ nambah karena kayaknya lebih mirip brainwash di bawah matahari yang panasnya minta ampun, semua permainan itu – walau kedengerannya nggak penting banget – tapi jadinya menyenangkan aja.

Seperti moto grup Paradise: santaiiii….

Ngabur di Sindang Barang: Mengisi Batere yang Setengah Penuh

Dihukum lari

Menurut seorang teman, bisa jadi saya menderita sindrom ADHD – Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Bahasa kerennya: pecicilan nggak bisa diem!

Ketika jalan-jalan, kadang “kecentilan” saya membuahkan hal-hal tak terduga.

Kalau nggak kelamaan ngobrol di warung kopi mungkin saya nggak bakal nginep di rumah penduduk dan belajar mengiris daun tembakau Sumenep. Kalau nggak ngabur dari pak polisi, saya bakal penasaran akan mesjid yang konon katanya jadi markas teroris di Lahore. Kalau nggak merambah semak-semak bahkan hampir terpeleset jatuh ke dasar tebing cadas, mana mungkin saya bisa merasakan sensasi berpakaian “lengkap” hanya dengan sepotong cawat di tengah orang-orang yang asyik nudis di Sydney.

Di Sindang Barang, bosan akan sunrise yang agak flat – walau ternyata bagus di foto seorang teman – saya malah “ngabur” dari desa budaya, bergerak mendekat hutan di kaki Gunung Salak. Sialnya, saya tak pernah sampai di hutan itu.

Saya malah ngobrol dengan pemuda-pemuda desa (cieeh…) di pinggir kali, ikut ngantri jamban umum karena kebelet buat air, foto-foto bersama anak-anak yang sedang di-strap oleh pelatih mereka karena nendang bola nggak benar, dengerin curhat petani yang panennya berkurang karena air tanah habis disedot pabrik, ditawarin seikat kangkung yang baru saja dipetik di kebon belakang rumah sampai nongkrong di warung ditemani segelas kopi dan pisang goreng.

Semua berasa kecil memang. Namun cerita-cerita “kecil” dari “orang-orang kecil” itu justru yang bikin perjalanan jadi lebih nikmat. Seperti kata seorang pintar yang pernah menghampiri saya dua belas tahun lalu, “lihat ke bawah, kamu akan bersyukur dengan apa yang kamu punya sekarang.”

Ngabur, walau biasanya berujung kekesalan teman-teman seperjalanan, kadang malah berbuah manis: pulang dengan batere terisi kembali.

Ayo ngabur!