jump to navigation

Dari Mata Turun ke Perut July 27, 2011

Posted by endrocn in Travelling.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,
6 comments

Berbeda dengan hari sebelumnya, dapur kedai Cik Maimoon di deretan ruko di Kota Kuching, Serawak, Malaysia pagi itu berisik dan semrawut. Biangnya siapa lagi kalau bukan saya yang setengah memohon diajari bikin Laksa Serawak yang sempat bikin saya nambah.

Negara tetangga kita ini sebenarnya nggak punya banyak makanan khas. Tapi, Fahnem, teman baru saya, terus berpromosi kalau Laksa Serawak itu beda dibanding laksa di tempat lain, bahkan di kampung halamnya, Penang. Dia pula yang rela merayu Cik Maimoon agar saya bisa menyusup ke dapurnya. “Kenape tak makan saja?” Cik Maimoon heran.

Menurut Fahnem, melihat bagaimana laksa dibuat sering bikin dia trenyuh. Laksa – yang ia tahu dari neneknya – menyatukan udang di laut dan kelapa di darat di dalam satu mangkuk. Kalau sendiri, mereka tak banyak artinya. Bersama, mereka jadi kekuatan kuliner luar biasa. “Mestinya seperti itulah kita sebagai saudara serumpun, ya?” usul Fahnem.

Tuturan Fahnem seolah hendak mengamini: ada cerita panjang mengurai dibalik tiap cecap rasa dan tekstur serta meriahnya warna makanan selama traveling. Apalagi jika bisa melihat langsung bagaimana makanan itu dibuat di tengah kepulan asap menguar. Lebih seru lagi jika bisa ikut masak, bercanda dengan ibu-ibu di dapur mereka.

Dari Mata Turun Ke Perut

Belajar bungkus Nasi Kuning Saroja di Manado

Saya bukan penilai makanan. Dalam kamus kuliner saya, cuma ada dua jenis makanan: yang bisa dimakan dan enak dimakan. Di luar keduanya, ada makanan yang ingin saya makan dan lihat langsung – kalau perlu ikut – pembuatannya. Biasanya, makanan ini punya cerita dan sejarah panjang – lebih panjang dari resepnya – atau bahkan cara makan yang unik.

Kadang, saya merasakan sendiri makanan asli suatu daerah langsung di tempat asalnya. Di Desa Tatui, Yapen, Papua, saya tidak diberikan sendok atau garpu ketika makan papeda, melainkan dua pasang gata-gata, sumpit terbuat dari urat batang daun sagu yang ditekuk dua. Makan papeda dengan gata-gata malah bikin makan jadi lebih menantang. “Supaya tidak terburu-buru,” kata Kak Boi, pemandu saya.

Di kesempatan lain, kegiatan makan atau masak bersama jadi kesempatan belajar filosofi hidup penduduk setempat. Di suatu pagi di Desa Ai Toun, Belu, Nusa Tenggara Timur, perut keroncongan saya dibangunkan oleh gemerincing suara peralatan dapur. Padahal, ibunda tuan rumah saya, Bapak Don Bosco, sang kepala desa, sedang sakit.

Ternyata, seorang tetangga ‘ditugaskan’ untuk memasak santap pagi. Segera saya membantu menyiangi daun pucuk labu, salah satu menu favorit saya selama di NTT. Anehnya, ibu tetangga ini tidak mengiris atau mengulek bumbu – bawang merah, bawang putih dan cabai – melainkan mencemplungkannya begitu saja. “Begini biasa kami masak,” jawabnya.

Saya pun mencontohkan bagaimana orang di Jawa atau Sumatra meng-geprek bawang agar aromanya keluar dan makanan jadi lebih harum tanpa harus bikin kuah jadi keruh.

“Benar, rasanya beda,” kata si ibu tetangga. “Pantas masakan di warung-warung Jawa lebih enak ya?”

Esoknya, saya diberi tahu Bapak Kepala Desa kalau kemampuan memasak orang Timor berkembang pesat ketika bersentuhan dengan pendatang. Aslinya, masakan Timor itu sederhana, baik dari bumbu maupun cara memasaknya. Saya sendiri menyebut makan makanan Timor hari itu – sayur pucuk labu, nasi kacang dan ikan kering – sebagai makanan yang ‘jujur’.

Ya, bumbu-bumbu yang ditambahkan seadanya justru tidak menghilangkan tekstur, rasa dan bau dari daun labu, kacang dan ikan kering (ikan asin).

Semua jujur, apa adanya. Hal itu pula yang bikin saya makin mengerti bagaimana saudara-saudara kita di ujung tenggara Indonesia ini mengartikan dan mengaplikasikan kesederhanaan dan kejujuran yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, kadang kesederhanaan makanan mereka tidak diimbangi dengan kesederhanaan menjamu tamu. Ketika menginap di Sumba Barat, opor ayam terhidang di meja makan malam pertama kami. Walau bumbunya kurang pas dengan lidah saya, tak urung saya kaget dengan kemewahan berlebihan ini.

Karena tak enak hati, saya dan teman saya, Dewi, memutuskan ‘mengganti’ pengeluaran tuan rumah kami karena kemewahan yang tidak semestinya kami terima. Bukan, bukan untuk membeli keramahan mereka, tapi setidaknya agar mereka tidak harus terbebani demi untuk bikin kami betah.

Di banyak kesempatan, saya juga bersyukur ketika dalam perjalanan dapat kesempatan menyaksikan, ikut membuat atau makan bersama dengan penduduk setempat. Selain kenal lebih budaya dan tradisi mereka, uang saya yang tidak seberapa banyak, kadang jadi sangat berarti ketika mampu membeli beras atau minyak untuk keperluan mereka sehari-hari.


Tulisan ini disalin dari tulisan yang sama dengan penulis yang sama dari kolom Responsible Traveler di Majalah Liburan.

Arti Seribu Perak June 3, 2011

Posted by endrocn in Travelling.
Tags: , , , , , , , ,
4 comments

Oleh Endro Catur Nugroho

Menawar terlalu rendah, dianggap kejam. Tidak gigih menawar, akhirnya tertipu. Jadi?

ArtiSeribuPerakPeluh menganaksungai dari pangkal kening saya. Udara panas Sumba membuat saya ingin segera menuntaskan urusan jual-beli dengan Mama Ita, pembuat dan pedagang kain tenun ikat dari Kampung Bondo Kodi, Sumba Barat Daya. Namun perbedaan sepuluh ribu rupiah membuat sepotong hinggi (kain laki-laki) bermotif mamuli tak juga berpindah tangan. Padahal, sebelumnya saya berbisik kepada teman seperjalanan saya, “Tak perlu ditawar pun, ini murah sekali.”

Tetap saja, saya ngotot ketika Mama Ita tak mau menurunkan penawarannya. Sampai akhirnya ia menyerah dan bilang, “Boleh deh, buat langganan. Untuk beli buku sekolah anak saya,” sembari menciumi beberapa lembar uang duapuluh ribuan dari saya.

Saya terhenyak. Ingin rasanya saya minta maaf karena menawar gila-gilaan. Tapi, di saat yang sama, gengsi telah menyelimuti diri. Rasa bersalah pun akhirnya ‘memaksa’ saya untuk membeli selembar selendang lagi, tanpa ditawar sedikit pun.

Bertransaksi dengan pedagang selama perjalanan, terutama saat membeli suvenir dan oleh-oleh, membuat saya sering dihadapkan pada ketidaktahuan yang berbuah pada kecurigaan hingga tak jarang berujung pada penyesalan.

Saya tidak tahu apakah harga yang ditawarkan masuk akal. Saya tidak tahu apakah harga itu telah menutup modal. Ketidaktahuan itu juga yang sering berujung pada kecurigaan. Curiga kalau-kalau harga yang ditawarkan terlalu tinggi, apalagi karena mereka tahu saya turis yang menurut mereka lebih banyak uangnya. Curiga ada persengkokolan dengan pedagang lain sehingga harga yang tinggi itu seolah harga yang wajar. Hingga akhirnya – dari pengalaman juga – saya pernah menyesal karena sebenarnya harga yang ditawarkan memang terlalu tinggi. Dan itu yang membentuk mindset saya tentang harga.

Namun, yang paling disesali adalah situasi seperti yang saya alami dengan Mama Ita tadi: menawar terlalu rendah hingga saya menihilkan tenaga dan waktu yang dihabiskan perempuan ini untuk selembar kain yang saya beli.

Di Pulau Karimun Jawa, Jawa Tengah, saya berjingkrak girang karena menghemat seribu rupiah untuk seplastik penganan dari seorang perempuan tua. Celakanya, telinga ini tak sengaja mendengar suara perempuan itu bergumam dalam bahasa Jawa, “Hari ini tidak bisa beli ati rempelo ayam untuk cucu saya.”. Saya tersentak dan tak berani menoleh.

Seribu perak yang saya hemat, seribu perak yang berhasil memuaskan ego, ternyata sama dengan hilangnya kesempatan membelikan lauk untuk seorang cucu tercinta, yang mungkin jauh lebih membutuhkannya. Saya malu. Terlanjur menggeneralisir bahwa semua dagangan – selama tidak ada label harga – bisa ditawar serendah mungkin.

Kalau mau mencari pembelaan diri, mungkin ini akibat trauma ketika saya ‘ditipu’ habis-habisan di Mumbai, India. Padahal teman saya, Sangeeta, sudah mengingatkan agar jangan terlalu percaya dengan harga yang ditawarkan pedagang di Mumbai, apalagi kepada saya turis.

“Ada baiknya kamu tanya-tanya dulu ke beberapa orang lokal,” katanya. Saya memang sempat bertanya-tanya ke beberapa pedagang – makanan, minuman dan lain-lain – ketika menemukan kain sari yang saya cari. Tapi mungkin karena wajah saya yang beda dan tampilan saya yang turis banget, orang pun mungkin merasa perlu untuk menaikkan harga.

Saya tak sepenuhnya menyalahkan pedagang di tempat tujuan wisata, terutama di tempat-tempat yang minim kunjungan wisatawan. Hukum ekonomi bilang: biaya produksi yang tinggi, sebisa mungkin ditebus secepatnya. Dan cara tercepat adalah menaikkan harga, walau resikonya pengunjung mungkin kapok datang.
Kalau sudah begini, tawar menawar jadi tak sesederhana kelihatannya bukan?

Saya percaya, sebagai pengunjung, kita bukan ingin mendapat harga terendah, tapi harga terbaik, baik untuk pedagang dan kita sebagai pembeli. Sayangnya, kita lebih sering tidak tahu hingga secara tak sadar, harga terendah adalah harga terbaik.
Tapi bayangkan jika kejadian saya dengan Mama Ita di Sumba atau nenek tua di Pulau Karimun Jawa terjadi pada anda. Bisa jadi penyesalan berbuah rasa bersalah tak berkesudahan.

Satu tips yang bisa saya bagi: cari tahu berapa harga sebuah barang dengan cara mengetahui – kalau perlu lihat dan pelajari sendiri – bagaimana barang itu dibuat dan diproduksi. Jika tak sempat, tanya lah ke orang yang tak mengambil keuntungan dari situasi.

Dan yang paling penting, menawar lah dengan hati, bukan emosi.


Tulisan ini disalin dari tulisan yang sama dengan penulis yang sama dari kolom Responsible Traveler di Majalah Liburan.