My kind of travel is simple

My kind of travel is simple: coffee, books, local cafe and heart-to-heart conversation with the person in front of me.

Advertisements

Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti "Sedang apa di sini?", "Penelitian ya?" atau "Jual apa?" mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.

Dari Mata Turun ke Perut

... ada cerita panjang mengurai dibalik tiap cecap rasa dan tekstur serta meriahnya warna makanan selama traveling. Apalagi jika bisa melihat langsung bagaimana makanan itu dibuat di tengah kepulan asap menguar. Lebih seru lagi jika bisa ikut masak, bercanda dengan ibu-ibu di dapur mereka.

Menjadi Indonesia Kembali di Banda Naira

Indonesia tidak lahir dari selembar kertas yang disuarakan pendiri bangsa. Naskah proklamasi hanyalah corong pengukuh keberadaan sebuah negara yang patut diperhitungkan dunia. Benih berbangsa sesungguhnya tersemai jauh sebelumnya. Dan dari Banda Naira lah Indonesia bermula.