Ulurkan Tanganmu, Bukan (Hanya) Dompetmu

Menjelang siang di penghujung Juli 2011, delapanpuluhan pasang mata tertuju pada pria di pojok depan ballroom Hotel Le Meridien, Jakarta. Semua berusaha sekuat tenaga menangkap kalimat yang keluar dari bibirnya. Memicingkan mata. Mendekatkan gendang telinga. Membaca gerak bibir. Semua sudah dilakukan. Saya yang berdiri paling dekatpun akhirnya harus mengakui: saya tak mengerti apa yang disampaikan Bapak Afrizar Z, penyandang tunarungu dan tunawicara yang juga ketua GPP GERKATIN (Gerakan untu Kesejahteraan Tunarungu Indonesia).

Walau ditawarkan bantuan terjemahan, ia kekeuh menyampaikan pendapatnya sendiri. Saya menyapu seluruh wajah di dalam ballroom, sebagian besar menunjukkan wajah yang sama: tak mengerti. Gawat, padahal yang disampaikan Bapak Afrizar ini masukan yang penting.

Tak disangka, ia kemudian menyerahkan microphone ke penterjemahnya. “Nah, sekarang Anda merasakan sendiri kesulitan berkomunikasi seperti yang sering saya alami? Saat yang disampaikan jauh lebih penting dari siapa yang menyampaikan?”

Kesempatan. Itulah yang dituntut oleh teman-teman penyandang disabilitas. Sayangnya, karena kekurangpahaman, rasa kasihan lah yang malah sering menghampiri mereka.

Emanuela Pozzan, ahli disabilitas dari International Labour Organization (ILO) di Jenewa, Swiss bahkan menilai bahwa masyarakat-lah yang perlu direhabilitasi. Menurutnya, fokus kepedulian kita yang sekarang dari sumbangan/charity harus diubah menjadi pengakuan dan penyetaraan atas hak/rights.

Menghormati adalah satu hal, mendukung dan memberdayakan adalah hal lain. Selama ini saya bangga dengan hanya menghormati hak-hak minoritas termasuk penyandang disabilitas, tanpa pernah memberikan kesempatan agar mereka lebih terberdaya.

Lokakarya ini tujuannya tak mudah: merancang rencana aksi untuk meningkatkan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Menurut beberapa peserta, lokakarya seperti ini baru pertama kali diadakan. Belum pernah sebelumnya penyandang disabilitas bertemu dengan pembuat kebijakan (pemerintah), penyuara hak-hak penyandang disabilitas (NGO) dan mereka yang berkesempatan memberdayakan penyandang disabilitas (pengusaha).

Saya dituntut untuk menciptakan suasana belajar dan bekerja yang memberikan kesempatan setara bagi delapan puluh peserta – seperempat di antaranya adalah penyandang disabilitas. Segera saya sadar, pengetahuan saya sangat minim. Dan ini adalah buah dari ketidakacuhan selama ini akan teman-teman penyandang disabilitas. Ternyata, ketidakacuhan (ignorance) saya adalah ketidakmampuan (disability) saya.

Padahal, dengan sedikit modifikasi dan persiapan, lokakarya yang tadinya saya khawatirkan bakal berantakan malah jadi produktif.

Tak lagi berkutat pada metodologi yang canggih, saya mengembalikan pada esensinya: berbagi pengetahuan dan berdiskusi. Penterjemah bagi peserta tunawicara dan tunarungu, asisten bagi peserta tunanetra untuk berpindah tempat, dan seterusnya. Tak rumit, hanya perlu sedikit usaha.

Dan usaha itu berbuah hasil. Setidaknya begitulah pengakuan beberapa peserta yang saya tanya sesaat setelah acara ini kelar. “Akhirnya suara saya didengar,” tepukan di pundak oleh seorang peserta tunanetra menjadi hadiah paling berharga dari lokakarya kali ini. Memang, masih banyak pekerjaan rumah mengikuti lokakarya ini, tapi biarlah itu jadi bagian yang berkepentingan.

Buat saya, mengulurkan tangan untuk memberikan kesempatan jauh lebih bermanfaat dibandingkan sekedar bersimpati dan membuka dompet untuk memberi sumbangan.

Bagaimana dengan Anda?

 


15 Tips Mendesain dan Memfasilitasi Acara dengan Peserta Penyandang Disabilitas

Endro Catur | https://endrocn.wordpress.com | @endrocn

    1. Kenali sejauh mungkin peserta penyandang disabilitas: jenis disabilitas dan jumlahnya. Tanyakan kebutuhan khususnya agar dapat berpartisipasi aktif.
    2. Tidak membedakan peserta, tapi memberi kesempatan yang sama. Tidak menunjukkan simpati berlebihan pada peserta penyandang disabilitas. Pengalaman saya, di hari kedua peserta mulai bisa ‘melupakan’nya dan lebih fokus pada kegiatan.
    3. Bawa suasana lebih dinamis dan menyenangkan. Seimbangkan porsi sesi berbagi pengetahuan (ceramah, presentasi, dll.) dan sesi diskusi. Peserta tunanetra lebih dapat berkonsentrasi mendengar ceramah, sementara peserta tunarungu mudah kelelahan jika harus terus menerus membaca gerak bibir pembicara.
    4. Setujui bersama terminologi yang hendak dipakai: penyandang cacat, penyandang disabilitas atau difable. Penyandang disabilitas cenderung sensitif pada hal ini.

  1. Fokus pada esensi, bukan metodologi, dengan tujuan agar seluruh peserta dapat berpartisipasi dan berkontribusi. Kurangi penggunaan metodologi yang mengharuskan peserta tunanetra dan yang menggunakan tongkat/kursi roda untuk bergerak sering atau bergerak cepat.
  2. Pada sesi berbagi pengetahuan, siapkan layar berisi running text untuk peserta tunarungu dan/atau penterjemah yang dapat dilihat dari seluruh penjuru ruangan. Pastikan sistim tata suara menghasilkan suara yang jelas, tidak pecah dan tidak terlalu menggema agar dapat didengar dengan baik oleh peserta tunanetra. Pertimbangkan untuk tidak menggunakan panggung, apalagi jika salah satu pembicara adalah tunanetra atau pengguna tongkat/kursi roda.
  3. Untuk sesi diskusi kelompok, buat kelompok-kelompok kecil (maksimal 8 orang, 6 orang jumlah ideal) agar seluruh peserta mendapat kesempatan untuk bicara. Pertimbangkan untuk tidak menggunakan meja (round table) dan utamakan menggunakan klaster kursi.
  4. Informasikan pada pembicara, peserta dan fasilitator untuk berbicara perlahan, jelas dan lantang. Penyandang tunarungu dan/atau tunawicara kadang harus mengandalkan membaca gerak bibir untuk menangkap pembicaraan orang di depannya.
  5. Buat tata ruangan dengan jalur yang lurus, jelas dan tidak terhalangi (kabel-kabel, benda-benda yang menghambat, dll) terutama untuk peserta tunanetra dan yang menggunakan tongkat/kursi roda.
  6. Untuk memudahkan menentukan lokasi dalam ruangan (misalnya ketika membagi kelompok), tentukan satu lokasi sebagai titik referensi. Dari titik ini, fasilitator menjelaskan lokasi kelompok menggunakan instruksi yang jelas kepada peserta, terutama peserta tunanetra. Misalnya “sebelah kiri saya”, “sebelah kanan pojok ruangan”, dan seterusnya. Metode ini bisa juga digunakan untuk menginformasikan pintu keluar, ruang makan, dll.
  7. Kecuali untuk tujuan yang lain, sebisa mungkin peserta penyandang disabilitas menyebar di setiap kelompok.
  8. Saat diskusi kelompok, peserta tunarungu dan tunawicara sebaiknya didampingi penterjemah kecuali memungkinkan untuk menyediakan running text.
  9. Informasikan ke seluruh peserta terutama pembicara, presenter dan fasilitator untuk juga menjelaskan isi gambar atau foto, terutama jika gambar dan foto tersebut adalah bagian dari materi.
  10. Peserta yang dibantu penterjemah perlu waktu lebih banyak untuk menerima isi pembicaraan. Sebelum memulai sebuah sesi, pastikan seluruh peserta telah mengerti instruksi yang diberikan. Misalnya, kesempatan mengajukan pertanyaan hanya dibuka ketika peserta tunarungu dan tunawicara telah mengetahui sesi tanya jawab segera dibuka jadi mereka tidak kalah cepat dengan peserta lain.
  11. Pastikan toilet, ruang makan, mushola, dll. mendukung kebutuhan seluruh peserta, terutama peserta yang menggunakan tongkat/kursi roda.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s