Detox Racun Kota di Baduy

Selamat datang di Baduy
Selamat datang di Baduy
Baduy masuk dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi sejak 2008 tepatnya sejak pulang dari perjalanan 40hari Bali-Lombok. Di Lombok, saya sempat kaget melihat kondisi Desa Wisata atau Desa Tradisional Sade, di selatan Praya, Lombok Tengah. Sejak itu, terbersit sebuah keingintahuan: apakah tempat lain di Indonesia bernasib sama?

Informasi dari beberapa teman bilang, pergilah ke Baduy. “Di sana kamu bakal lihat adat dan tradisi dipegang teguh, tak goyah sedikitpun bahkan oleh terpaan angin bernama modernitas,” jelas salah seorang teman.
Di akhir pekan kedua 2011, saya mengikuti trip yang di-organize Pesona Jawa, sebuah trip organizer yang spesialisasi menawarkan wisata alam dan budaya di Pulau Jawa. Dua puluh empat peserta trip. Tak satupun saya kenal sebelumnya.

Berkumpul di Stasiun Kota, kami menumpang kereta pukul 07:50 menuju Rangkasbitung. Kereta ekonomi ini salah satu yang tarifnya naik hari itu (walau akhirnya konon turun lagi). Biarpun naik, ongkos Rp 2.500 untuk perjalanan 3.5jam tak terasa mahal. Memang, hiburan berupa pedagang, pengamen dan pembersih kereta tak absen sedetik pun. Beginilah kereta rakyat.

Sampai di Rangkasbitung, kami menyewa angkutan umum berupa elf (van besar menyerupai minibus untuk sekitar 20 orang dengan posisi duduk ala ikan sarden). Kalau tak di-charter, elf ini menunggu penumpang di terminal bayangan di samping stasiun Rangkasbitung, melayani tujuan Ciboleger dengan tarif Rp 10.000.

Selagi menunggu elf jalan, kaki ini terlalu gatal untuk diam. Kebetulan ada yang unik dengan dinding-dinding bata yang menyeruak tinggi di belakang kios-kios pedagang di belakang stasiun. Setelah tanya sana-sini, ternyata kompleks di tengah kota Rangkasbitung itu pernah jadi pabrik minyak kelapa terbesar di Asia Tenggara. NV Insulinde, sebuah perusahaan pengolah kopra milik pemerintah Belanda, pernah jaya di tahun 1920-an. Kopra diambil dari kebun-kebun masyarakat sekitar Rangkasbitung. Dari sini, minyak kelapa diangkut kereta barang hingga ke Batavia. Di atas jalan di sekitar bangunan pabrik ini pernah terbentang lajur-lajur rel baja untuk tempt berlarinya gerbong-gerbong kereta barang sebelum masuk ke jalur kereta Rangkasbitung-Batavia.

Sejak tahun 1950-an, pabrik itu dibeli saudagar lokal. Sayang, karena tak sukses kompetisi, tahun 1990-an ditutup. Sebagian kecil lahannya dijadikan mal (Rangkasbitung Indah Plaza) sementara sisanya dibiarkan tertelan belukar. Di salah satu sisi, tersisa sebuah rumah tak terurus menjulang di balik rerimbunan semak. Di sebelahnya, sebuah rumah asri – konon ditinggali orang tua pemilik tanah – tertutup lebat pohon perdu. Saat melongokkan kepala ke dalam pagar, badan ini seolah tersedot ke tahun-tahun awal kemerdekaan.

Sayang, saya harus melanjutkan perjalanan. Dua setengah jam menuju Ciboleger terasa beda. Bersama dengan tiga orang lain, saya ‘bertengger’ di atap elf. Menantang angin berdebu dan udara sejuk. Jalan sebagian besar baik, walau ada beberapa bagian bikin badan sakit serasa menunggang kuda rodeo.
Melewati pertigaan Tajurdalam, bukit-bukit padas terpotong vertikal oleh mesin-mesin pengupas tanah dan penambang pasir. Kontras dengan hamparan hijau-kuning sawah di antaranya sebelum akhirnya tiba di tujuan.

Desa Ciboleger bukan termasuk Baduy. Ia adalah desa dengan akses terdekat menuju Baduy Luar. Baduy Luar sendiri terdiri dari lebih dari sepuluh desa. Sebuah gapura menandakan titik awal Baduy Luar, lengkap dengan peraturan dan sangsi bagi pelanggar. Hmm, tak jelas sebenarnya apa peraturannya. Tapi, nominal denda nya sungguh jelas. Apalagi sponsornya 🙂

Dan, sponsor ini juga menandakan dominasi teknologi komunikasi. Di kawasan ini, hanya sinyal sang sponsor lah yang bisa ditangkap. Jadi, silakan pilih: beli kartu SIM-nya atau nikmati saja perjalanan tanpa gangguan telepon sedikitpun.

Menuju Desa Balingbing, salah satu desa di Baduy Luar yang akan kami tempati sebagai tempat menginap melewati ladang, hutan belukar hingga beberapa badan air. Jalan setapak hanya tanah merah yang memadat karena sering diinjak dengan beberapa bongkah batu untuk pijakan alternatif ketika hujan. Berjalan santai butuh waktu sekitar satu setengah jam hingga akhirnya kami menuruni sebuah punggung bukit dan melihat atap rumah terletak tak beraturan di bawah sana.

Selamat datang di Desa Balingbing.

Suara ketukan bambu alat tenun khas Baduy terdengar berpadu semilir angin yang menyambangi setiap dinding gedek (bambu) dan jendela kayu rumah-rumah yang berdiri di atas anggung pendek. Tak banyak orang lalu lalang di jalan-jalan sempit bertutup batu. Untuk kampung se-rapat ini, aneh rasanya tak mendengar anak-anak kecil berteriak dan berlarian di sana-sini.

Walau hari Sabtu, tak banyak kehidupan di luar rumah. Nampaknya sebagian besar penduduk Balingbing masih di kebun dan ladang. Saat ini sudah masuk musim panen padi, salah satu musim sibuk di Baduy selain musim tanam. Di musim panen, petani harus berjuang menghadapi serbuan burung pipit yang rakus. Jadi, tak heran kalau kampung terasa sepi. Kadang anak-anak pun membantu orangtuanya di sawah.

Apalagi, secara tradisional, anak-anak ini memang tidak ada kegiatan lain selain bermain. Ya, anak Baduy – termasuk Baduy Luar – tidak kenal sekolah. “Kalau masih kecil main. Kalau sudah besar sedikit, Bantu orang tua,” begitu ucap Pak Sarpin, tuan rumah kami.

Uniknya, Pak Sarpin sempat mengajari anaknya baca-tulis. Kini, anak laki-lakinya berumur delapan tahun sudah lancar baca tulis. Buku-buku dan majalah pemberian wisatawan yang datang dan menginap di rumahnya sangat membantu kelancaran belajar anak laki-lakinya ini. Pak Sarpin sendiri belajar baca tulis dari turis yang datang.

“Kalau di ladang, (anak saya) sambil bawa buku atau majalah terus dia baca keras-keras,” kata Ibu Misnah, istri Pak Sarpin.

Sekolah hanya salah satu dari beberapa (baca: banyak) hal yang ditabukan di Baduy Luar. Listrik, televisi, radio dan barang modern lainnya. Buat kami, mengunjungi dan menginap di tempat seperti ini layaknya detox untuk mengusir racun kota yang akut. Benar saja, tanpa listrik dan sinyal telepon, kami jadi ngobrol. Ya, berbincang dan mengenal satu sama lain. Padahal, sebelumnya masing-masing sibuk dengan telepon genggam masing-masing.

Sebelum malam, kami trekking ringan menuju Desa Dandang, salah satu desa tertua di Baduy Luar. Terlihat beda dengan Desa Balingbing, desa ini lebih padat rumah-rumahnya. Jalan setapak lebih sempit. Ventilasi lebih sedikit. Ruang terbuka lebih jarang. Itulah sebabnya penduduk jadi telihat lebih ramai. Mungkin juga karena sore itu sebagian besar penduduk sudah kembali dari pekerjaan.

Di ujung desa, sebuah jembatan bambu melintas kali Ciujung. Menurut Pak Oding, salah seorang warga Baduy Dalam yang menemani kami, jembatan itu umurnya satu tahun saja. Bambu bikin jembatan tak berusia panjang. Dan setahun sekali itu pula lah warga harus mengganti jembatan dengan yang baru. Selain karena bambu yang sudah lapuk, kami tak ingin berlama-lama di jembatan ini karena matahari sudah jauh di ujung Barat.

Gulita cepat menyergap, bahkan sebelum pukul enam sore. Sembari mengantri toilet, beberapa dari kami sempat ngobrol dengan Pak Oding dan beberapa teman dari Baduy Dalam. Jika warga Baduy Luar sudah berbaju seperti orang kebanyakan, orang Baduy Dalam menggunakan baju kurung yang dijahit sendiri oleh para wanitanya.

Pakaian laki-laki umumnya sarung pendek (warna hitam garis-garis putih), baju kurung tangan panjang warna hitam dan/atau putih dan destar (penutup kepala) berupa sehelai kain kotak dilipat dua dan dililit di sekeliling kepala.

Sederhana. Sayang memang kami tak sempat mengunjungi Baduy Dalam karena mereka baru saja mulai kawali (seperti masa Lebaran) yang tak mengijinkan pendatang memasuki desa selama tiga bulan.

Malam bergulir cepat. Udara sejuk lamat-lamat menyelisip celah gedek bambu menyejukkan kamar remang yang agak pengap karena udara terperangkap di dalam. Saya memilih tidur di luar. Pilihan yang tepat hingga akhirnya dini hari hujan turun disertai angin dingin.

Hujan yang deras berlanjut hingga pagi. Rencana mandi di kali dibatalkan. Kami kembali menarik sarung dan melanjutkan tidur. Entah kapan terakhir tidur rasanya senikmat ini. Lumayan untuk persiapan pulang yang ternyata lumayan repot.

Karena hujan, jalan setapak menuju Desa Ciboleger berubah jadi lumpur licin. Kami terpaksa berjalan pelan, memperpanjang perjalanan hingga dua jam. Beberapa terpeleset. Tapi kami senang. Seperti iklan sebuah deterjen, kalau tidak berkotor-kotor seperti ini, kapan lagi bisa tertawa lepas bersama orang-orang yang baru saja kita kenal?

Peserta trip Pesona Jawa ke Baduy, 8-9 Januari 2011
Peserta trip Pesona Jawa ke Baduy, 8-9 Januari 2011
Advertisements

4 thoughts on “Detox Racun Kota di Baduy

  1. Saya ke Baduy Dalam dan nginap disana sekitar 3 tahun lalu. Berkesan, terutama perjalanannya dari Ciboleger sampai ke Baduy Dalam sekitar 5 jam melewati tanjakan yang bikin saya pingin menyerah.
    Sepertinya route mas Endro perlu dicoba nih, walau hanya sampai Baduy Luar. Salam, Harry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s